" Waktu adalah hal yang bisa menyapu dan mengantar segalanya. Baik kenangan ataupun perasaan. Baik hal-hal buruk maupun hal-hal baik. Baik awal maupun kesudahan. Hanya saja, tak banyak manusia manusia yang mau merelakan sedikit detik lebih lama untuk berproses, untuk berani melangkahi sesuatu yang teramat dicintai. Untuk berpindah dari satu pijakan ke pijakan lain yang terasa begitu asing - tapi sesungguhnya adalah rumah yang seharusnya. Karena dalam hidup ini, manusia selalu butuh berpindah. Pindah dari hal - hal yang salah, pindah dari perasaan - perasaan yang keliru. Namun, untuk melakukannya diperlukan keteguhan, dan manusia terlalu tidak sabaran menjalaninya; terlalu tidak berani memilihnya"
Sebuah kutipan menarik dari buku yang berjudul "PINDAH"....! ! !
Mungkin aku adalah salah satu manusia yang kebanyakan itu, kebanyakan manusia yang nyaris tidak dapat pindah dan menikmati proses dari pindah itu sendiri di beberapa kondisi tertentu. Rasa sulit beranjak dari posisi yang nyaman menuju ketidak nyamanan yang baru.
Aku pernah membangun sebuah benteng pertahanan yang aku bangun dari hasil pemikiranku, dan aku membangunnya sejak awal sebuah pertemuan. Saat itu aku sadar mungkin benteng yang aku bangun bisa saja retak dan hancur atau mungkin lenyap, tapi aku yakinkan lagi pikiranku bentengku cukup tangguh..ya... Waktu memang mengantarkan segalanya, berulang kali bentengku nyaris retak dan aku selalu berhasil memperbaikinya, dan selama itu semua tetap berjalan dengan lancar. ada hal yang aku yakini di sini, ketika bentengku runtuh akan sulit untukku untuk kembali membangunnya ulang dari awal, dan itu adalah hal paling aku takutkan dan aku hindari sebenarnya.
Tuhan memang selalu memiliki rencana yang indah bukan....
selalu ada rencana indah, mungkin saat itu Tuhan sedang menguji kekuatan benteng yang aku bangun itu, atau mungkin Ia sengaja ingin meruntuhkannya, entahlah, apapun itu kuyakinkan itu hal terindah dariNya, dan benar saja aku lengah dan bentengkupun mulai runtuh perlahan terbawa oleh arus waktu, ntah siapa yang harus aku persalahkan dalam hal ini, mungkin diriku sendiri, atau bahkan mungkin tidak ada yang perlu aku persalahkan. Dan akupun mulai terbawa arus waktu sehingga aku sendiri melewati batas benteng yang aku bangun. Setiap saat aku selalu tersadar bahwa aku telah melawatinya dan aku sadar ini sudah mulai tidak benar dan ini sudah mulai salah, tapi waktu terus membuaikan aku, sehingga aku merasa di posisi yang paling menyenangkan, sulit sekali rasanya untuk kembali mundur ketempat semula. Mungkin disinlah titik kegagalanku... aku terbuai di sebuah kenikmatan rasa bahagia, terlalu merasa nyaman dengan apa yang aku rasa sampai - sampai aku sendiri mengingkari kesalahanku, enggan untuk pindah meninggalkan sebuah kenyamanan ini. yah sudah menjadi sifat manusia bukan, selalu mencari kenyamanan bagi dirinya sendiri..
Kini bentengku tidak lagi sempurna, pondasinyapun sudah tidak kokoh. Tapi sebuah tamparan menyadarkanku, aku harus kembali....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar